Perhatikan 3 Aspek Ini Untuk Membangun Budaya Kerja yang Positif

Onggy Siregar
Pekerja kantor saling berkomunikasi
Peran budaya kerja sebagai landasan kesuksesan perusahaan sudah sedemikian penting. Perusahaan-perusahaan besar berskala global seperti Amazon, Alibaba dan Facebook hingga sampai pada titik kesuksesannya, juga disebabkan oleh budaya kerja yang mereka bangun. Memang tidak mudah untuk membentuk dan menerapkan sebuah budaya perusahaan yang baik dan efektif secara konsisten. Karena untuk menciptakan budaya kerja yang positif, diperlukan kerja sama antar pihak dalam perusahaan.
Hal ini tidak bisa diciptakan hanya dengan usaha dan upaya sepihak perusahaan tanpa sokongan tim dan pekerja di dalamnya. Untuk itu perlu adanya kolaborasi antar pihak agar terwujud budaya kerja positif pada sebuah perusahaan.

3 Aspek yang Perlu Diperhatikan Untuk Membangun Budaya Kerja Positif

Artikel ini akan membahas 3 aspek yang perlu diperhatikan untuk membangun budaya kerja yang positif. Sehingga, setiap karyawan bisa merasakan keadilan dan kebahagiaan yang sama, serta kesempatan yang merata. Lalu, apa saja 3 aspek tersebut tersebut? Yuk, kita simak penjelasannya berikut ini.

1. Budaya Kerja Perusahaan

Setiap perusahaan wajib hukumnya memiliki visi dan misi. Sebuah visi dan misi berisikan uraian tertulis tentang apa yang Anda yakini dan tujuannya. Visi dan misi yang baik adalah visi misi yang dibuat dari hasil berkoordinasi dengan beberapa pihak, sehingga tergambar jelas arah perusahaan Anda ke depan.
Membangun budaya kerja yang positif dalam 5 langkah
5 langkah membangun budaya kerja positif dalam perusahaan
Selanjutnya, penting untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan visi dan misi tersebut kepada semua karyawan. Berbagai media dan alat komunikasi bisa digunakan asal tujuan pemahaman pada karyawan dapat tercapai.
Setelah visi dan misi selesai dikomunikasikan, maka selanjutnya kembangkan standar sikap yang harus dilakukan seluruh karyawan. Standar sikap adalah sikap dan perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai visi dan misi. Karyawan tentu tidak akan memiliki sikap dan perilaku yang diharapkan jika tidak ada patokan standar yang tertulis. Maka cara terbaik untuk mendapatkan sikap yang diinginkan perusahaan secara tetap adalah dengan membuat standar secara tertulis dan dapat diukur.
Berikutnya, implementasikan pelatihan agar standar sikap tersebut tertanam dan berdampak pada tercapainya target perusahaan. Tidak lupa memberikan penghargaan serta konsekuensi kepada karyawan yang taat dan disiplin mengikuti standar perilaku, begitu pun karyawan yang tidak taat ada konsekuensinya.
Terakhir, adakan evaluasi performa sehingga kinerja juga diukur dari penilaian sikap dan perilaku karyawan selama bekerja. Dengan adanya evaluasi, karyawan akan memerhatikan cara mereka bekerja dan bersikap karena tahu mereka akan dinilai nanti.
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Bagikan ke Teman Anda

2. Budaya Kerja Tim

Sebuah tim yang baik memiliki tujuan yang jelas berserta strategi tepat dan fleksibel untuk mencapai tujuan tersebut. Tetapi dalam sebuah tim juga diperlukan kemampuan “emotional intelligence” yang membuat rekan tim saling memahami kondisi dan perubahan emosi satu sama lain. Kemampuan utama seperti empati dan simpati sesama rekan kerja sangat dibutuhkan untuk membangun budaya kerja tim yang positif.
empati memahami rekan kerja
Memahami sisi kemanusiaan rekan kerja
Karyawan adalah manusia. Manusia yang memiliki dimensi emosi yang beragam satu sama lain. Berbeda dengan robot atau mesin yang berjalan berdasarkan program dan bahan bakar. Itulah mengapa sikap saling perhatian, tenggang rasa, empati dan simpati sangat diperlukan untuk menciptakan budaya kerja yang positif. Sangat penting untuk membuat budaya kerja di mana seluruh tenaga manusia perusahaan berperilaku dan diberlakukan layaknya manusia.

3. Budaya Kerja Individu

Sebagai seorang individu wajib bagi kita mengenali emosi diri sendiri. Kita dapat mengobservasi perilaku kita sendiri untuk mengidentifikasi kelemahan serta kekurangan diri sendiri. Tidak salah juga, untuk meminta pendapat rekan kerja terhadap diri Anda. Dengan begitu upaya mengenali diri Anda berdasarkan 2 perspektif yaitu perspektif diri sendiri dan perspektif orang lain.
self identification untuk membangun budaya kerja positif
Mengenali diri sendiri untuk membangun budaya kerja positif
Selain itu, upaya untuk mengenali emosi diri sendiri dapat membantu Anda membangun rasa empati dan simpati terhadap orang lain. Karena walaupun setiap orang memiliki sifat beragam, tentu ada beberapa aspek yang Anda dapat “relate”.
Penting sekali untuk mengenali diri masing-masing untuk mengembangkan kemampuan mengelola perasaan. Emosi bisa lebih kuat dibandingkan pikiran. Bahkan, orang yang paling rasional sekalipun bisa kehilangan akal sehatnya ketika didominasi oleh emosi yang kuat. Kondisi ketika emosi menyabotase akal sehat dapat membuat Anda mengambil keputusan yang kurang tepat atau bahkan membahayakan.
Untuk membangun budaya kerja yang positif, setiap dari kita perlu mengandalkan pikiran dan menurunkan emosi serta ego ketika keadaan tidak berjalan sesuai yang kita harapkan.
Kesimpulannya, kemampuan masing-masing individu dalam perusahaan untuk memahami dan mengembangkan diri sendiri adalah fondasi utama dalam membangun budaya kerja yang positif. Karena dari budaya individu yang baik akan menciptakan budaya tim yang baik dan kemudian budaya kerja perusahaan yang baik.
Terima kasih telah membaca artikel ini. Kunjungi homepage kami di creaticals.com untuk melihat konten-konten keren lain yang kami miliki.
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Bagikan ke Teman Anda
Pos Terkait

Tinggalkan Balasan