Argument Driven Inquiry: Pengertian, Tujuan, Tahapan, Implementasi, dan Tantangan

By a Guy Who Teaches Physics for Fun

Pengertian Argument Driven Inquiry

Argumen Driven Inquiry(ADI) adalah model pembelajaran yang didesain untuk memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan kemampuan penyelidikan laboratorium yang disertai dengan aktivitas argumentasi baik secara lisan maupun tulisan.
ADI dapat digunakan oleh pendidik untuk membuat aktivitas pembelajaran laboratorium lebih autentik dan edukatif. Model pembelajaran ini dikembangkan dengan tujuan utama memberikan kesempatan bagi siswa untuk melakukan argumentasi ilmiah. Pembelajaran argumentasi ilmiah menjadi penting dikarenakan para akademik melakukan aktivitas tersebut dalam rangka mengevaluasi dan memvalidasi pengetahuan.
Percobaan biologi
ADI merupakan model pembelajaran berbasis eksperimen dengan diskusi dan argumentasi
Implementasi ADI sebagai model pembelajaran telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Penelitian yang dilakukan di turki melaporkan bahwa proses menciptakan argumentasi didukung dengan bukti dan penjelasannya mengarahkan pelajar untuk berpikir reflektif serta bekerja layaknya seorang peneliti . Penelitian yang dilakukan pada tahun 2012 melaporkan bahwa ADI mampu mengembangkan kemampuan argumentasi tertulis pelajar.
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Bagikan ke Teman Anda

Tahapan Argument Driven Inquiry

Argument Driven Inquiry memiliki 7 tahapan yaitu:

  1. Identifikasi tugas/tujuan/masalah oleh guru untuk menarik/mengajak pelajar untuk memahami suatu fenomena atau memecahkan permasalahan.
  2. Praktikum laboratorium di mana pelajar mendapatkan data dan melakukan analisis.
  3. Pembuatan argumen tertulis sementara pada media yang dapat dilihat oleh pelajar lain (misalnya papan tulis).
  4. Sesi argumen di mana pelajar mempresentasikan argumen mereka ,kemudian saling mengkritik dan memperbaiki argumen masing-masing.
  5. Menuliskan laporan investigasi menjelaskan tujuan penyelidikan, metode yang digunakan, dan argumen yang memiliki dasar yang baik.
  6. Peer review laporan investigasi dengan tujuan memberikan feedback kepada penulis laporan.
  7. Merevisi laporan investigasi berdasarkan feedback.
Detail dan pelaksanaan tahapan kami jelaskan di bawah ini.

1. Identifikasi tujuan atau masalah

Tahap pertama model pembelajaran ADI adalah identifikasi tugas/tujuan/ masalah oleh guru. Pada tahap ini guru menyampaikan topik utama yang akan dipelajari serta menjelaskan tujuan investigasi yang akan dilakukan oleh pelajar. Tahap ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian dan ketertarikan siswa. Guru juga perlu mengaitkan pengetahuan yang akan dicapai dengan pengetahuan sebelumnya yang sudah dipelajari.
Dalam merealisasikan tahap ini pendidik membagikan handout yang berisikan pendahuluan, tujuan, pertanyaan–pertanyaan yang perlu dijawab dengan melakukan investigasi, permasalahan yang harus diselesaikan, dan rangkaian tugas yang harus dilakukan. Handout juga berisikan daftar alat-alat praktikum yang dapat digunakan untuk investigasi berserta petunjuk yang bertujuan untuk membantu dan memandu pelajar ketika melakukan investigasi. Pada handout juga tertulis ciri – ciri argumentasi yang memiliki kualitas tinggi pada bidang sains sebagai acuan untuk menuliskan argumentasi pada tahapan berikutnya.

2. Praktikum atau eksperimen

Tahap kedua adalah melakukan praktikum untuk mendapatkan data dan melakukan analisis data. Pada tahap ini pelajar bekerja secara kolaboratif(berkelompok) untuk mengembangkan dan melaksanakan rancangan praktikum untuk menjawab pertanyaan atau permasalahan sebagaimana yang telah disampaikan oleh guru pada tahap sebelumnya.
eksperimen gerak jatuh bebas
Tahap kedua ADI adalah melakukan percobaan untuk mendapatkan data
Tujuan tahap ini adalah memberikan pelajar kesempatan untuk belajar melakukan investigasi dengan mendesain dan melaksanakan rancangan praktikum yang mereka buat sendiri serta belajar bagaimana data yang mereka miliki dapat dijadikan bukti untuk membuat sebuah argumentasi yang baik. Pelajar diharapkan mampu memahami bahwa desain praktikum dibangun berdasarkan karakteristik permasalahan penyelidikan yang akan diinvestigasi.

3. Menuliskan argumen sementara

Tahap ketiga adalah pembuatan argumen sementara. Pada tahap ini pelajar dituntut untuk membuat argumen yang terdiri dari claim, evidence, and reasoning. Argumentasi dituliskan pada media yang dapat dilihat oleh kelompok lain.
Claim dapat berupa kesimpulan, dugaan, penjelasan, atau jawaban terhadap permasalahan penelitian.
Komponen yang mendirikan sebuah argumen ilmiah yang baik dalam pembelajaran model argument driven inquiry
Argumen ilmiah terdiri dari klaim, bukti, dan penalaran
Evidence adalah bukti atau dasar argumen berupa hasil pengukuran atau observasi yang menyokong keabsahan claim. Bukti dapat berupa hasil pengukuran dalam bentuk data numerik (seperti massa, temperatur, dan waktu) dan hasil observasi (seperti warna atau deskripsi kejadian). Semua informasi atau data yang diperoleh dari praktikum akan layak dijadikan bukti jika data tersebut menunjukkan a) adanya hubungannya dengan perubahan waktu, b) adanya hubungan antar variabel, dan c) adanya perbedaan dengan obyek atau kelompok.
Reasoning atau penalaran adalah rasionalisasi yang menjelaskan bagaimana evidence yang diperoleh dapat menunjang claim dan bagaimana evidence yang diperoleh memiliki kelayakan untuk diperhitungkan sebagai evidence.

4. Argumentasi antar kelompok

Mempresentasikan argumen pada pembelajaran argument driven inquiry
Siswa menjelaskan argumen berdasarkan eksperimen yang telah mereka lakukan
Tahap keempat adalah sesi argumentasi. Pada tahap ini pelajar antar kelompok saling mempresentasikan argumen sementara dan saling mengkritik argumen yang dibuat kelompok lain.
Proses argumentasi pada tahap ini mendorong siswa untuk terbuka terhadap gagasan dan pendapat dari pelajar lain, memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau sangkalan, dan menilai kualitas argumen kelompok lain. Proses tersebut mampu mendorong siswa untuk belajar lebih baik.
Proses argumentasi memberikan suasana di mana pelajar diharuskan untuk mengkritisi klaim, data, metodologi, kesimpulan dan penalaran kelompok lain. Selain itu juga memberikan pengalaman sosial yang ilmuwan alami ketika melakukan argumentasi ilmiah.

5. Menuliskan laporan tertulis

Tahap kelima adalah pembuatan laporan investigasi tertulis. Setelah sesi argumentasi antar kelompok, siswa kemudian menuliskan sebuah laporan investigasi yang berisikan argumen akhir berdasarkan argumen sementara dan sesi argumentasi.
menganalisis data
Menuliskan laporan berisikan argumen ilmiah yang kuat dan layak berdasarkan data eksperimen dan sesi argumentasi
Menulis adalah kemampuan yang sangat penting pada proses sains. Karya tulis para ilmuwan adalah sarana menyebarluaskan hasil penelitian mereka terhadap peneliti lain.
Tahap ini memberikan kesempatan bagi pelajar untuk menulis sebagaimana standar dan norma penulisan komunitas sains. Melaporkan hasil investigasi secara tertulis mempermudah proses evaluasi. Pernyataan tertulis lebih mudah diuji, diperiksa, disangkal, dipertanyakan, dan didukung.

6. Memeriksa dan mengevaluasi laporan tertulis kelompok lain

Tahap keenam adalah double blind peer review. Pada tahap ini laporan investigasi individual pelajar dikumpulkan kepada guru tanpa adanya identitas yang tercantum pada laporan tersebut. Laporan tersebut dikumpulkan kepada guru yang kemudian laporan tersebut dibagikan kepada kelompok lain.
Tahap keempat argument driven inquiry adalah mengkritisi argumen kelompok lain
Peserta didik melakukan diskusi untuk mengkritisi laporan tertulis kelompok lain
Pelajar kemudian mengevaluasi laporan yang diterima untuk menentukan kualitas laporan tersebut serta memberikan feedback terhadap penulis laporan. Proses evaluasi yang dilakukan dipandu dengan lembaran yang berisikan kriteria yang perlu diperhatikan ketika mengevaluasi. Kriteria tersebut tertulis dalam bentuk pertanyaan seperti
  • Apakah penulis menulis tujuan atau permasalahan yang diselidiki secara eksplisit?
  • Apakah penulis menjelaskan bagaimana jalanya penelitian?
  • Apakah penulis menggunakan bukti yang valid sebagai penyokong klaim dibuat?
  • Apakah reasoning yang dibuat penulis  tepat dan sesuai dengan bukti?
Evaluasi dilakukan secara berkelompok dengan tujuan menentukan apakah laporan investigasi sudah memenuhi standar dan kelayakan atau laporan harus direvisi berdasarkan kriteria yang tertulis pada lembaran. Upaya evaluasi dilakukan melalui diskusi intra kelompok untuk menentukan kriteria apa yang harus diperbaiki oleh penulis. Evaluasi juga harus dilengkapi dengan feedback berupa pernyataan eksplisit mengenai kekurangan apa yang harus diperbaiki guna meningkatkan kualitas laporan investigasi.

7. Merevisi laporan

Tahap ketujuh adalah revisi laporan tertulis berdasarkan feedback dari kelompok lain. Setiap kelompok kemudian mengumpulkan revisi laporan kepada guru. Jika laporan investigasi belum memenuhi kelayakan maka guru akan mengembalikan laporan tersebut berserta feedback kepada penulis untuk revisi ulang. Proses revisi akan terus dilakukan sampai laporan mencapai standar kelayakan.
Proses ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, kemampuan argumentasi, dan pemahaman pelajar.
Setelah seluruh tahapan dilaksanakan, jangan lupa akhiri dengan diskusi reflektif yang dipimpin oleh pengajar.

Bagaimana Argument Driven Inquiry dapat mengembangkan kemampuan argumentasi peserta didik?

Secara teoritis, setiap tahapan ADI memberikan kesempatan bagi siswa untuk melatih kemampuan argumentasi. Tahap pertama hingga ketiga ADI melatih siswa untuk membangun argumen ilmiah yang terdiri dari klaim, bukti, dan penalaran. Siswa dilatih untuk dapat melakukan eksperimen untuk mendapatkan bukti yang mendukung klaim. Selain itu, siswa juga dilatih untuk membuat penalaran yang menghubungkan bukti dengan klaim dengan menggunakan konsep, hukum, model, atau teori sains.
Pada tahap keempat siswa diberi kesempatan untuk melakukan dialog argumentasi. Proses ini melatih siswa untuk mampu mengkritik argumen kelompok lain dan mempertahankan argumen. Pada tahap ini siswa melatih kemampuan memberikan counter argument dan rebuttal yang merupakan aspek penting pada argumentasi.
Pada tahap kelima dan keenam siswa dilatih untuk membuat argumen tertulis dengan mempertimbangkan counter-argument dan rebuttal yang mereka dapatkan pada tahap keempat dan melakukan evaluasi argumen tertulis siswa lain. Pada tahap ini siswa melatih kemampuan untuk mengevaluasi sebuah argumen dan diharapkan mampu memahami apa yang membuat sebuah argumen meyakinkan.
Pada tahap ketujuh siswa berlatih kemampuan untuk memperbaiki argumen tertulis berdasarkan masukan dari reviewer. Pada tahap ini siswa diharapkan mampu memahami bahwa argumen bukanlah sebuah jawaban sempurna atas suatu fenomena sains melainkan bersifat terbuka untuk dikritik dan diberi masukan dari orang lain.

Implementasi ADI di Indonesia

Secara empiris, beberapa penelitian telah melaporkan bahwa ADI mampu meningkatkan kemampuan argumentasi. Pada tahun 2015 di Lampung Indonesia, penelitian quasi-experimen dilakukan untuk membandingkan 3 model pembelajaran yaitu ADI Scaffolding (ADIS), ADI biasa, dan model pembelajaran konvensional. Hasil analisis pretest-posttest kemampuan argumentasi penelitian tersebut melaporkan adanya perbedaan signifikan antara nilai rata-rata peserta didik yang belajar melalui ADIS, ADI, dan model konvensional. Di antara 3 model tersebut, ADIS paling berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan argumentasi peserta didik.
Pada tahun 2019, penelitian kuasi eksperimen dilakukan di salah satu SMA di kota malang membandingkan model ADI dengan model inquiry terstruktur. Penelitian tersebut melaporkan kelas yang menggunakan model ADI mengalami peningkatan kemampuan argumentasi yang lebih baik dibandingkan kelas inquiry terstruktur. Bahkan, penguasaan konsep kelas ADI juga lebih baik daripada kelas inquiry terstruktur.
Pada tahun yang sama, penelitian lain di Blitar membandingkan model ADI dengan model inquiry terbimbing. Berdasarkan penelitian tersebut dilaporkan bahwa kelas yang diterapkan model ADI mengalami peningkatan kemampuan argumentasi dan kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik dibandingkan dengan kelas model inquiry terbimbing.

Tantangan ADI

Implementasi ADI pada pembelajaran dikelas bukan tanpa kendala. Salah satu penelitian melaporkan bahwa pelajar masih belum mampu menggunakan penjelasan ilmiah seperti teori, model, atau hukum sebagai dasar untuk mengaitkan klaim dengan bukti ilmiah. Pelajar lebih cenderung menggunakan penjelasan yang didapat dari kehidupan sehari-hari guna menjelaskan fenomena ketimbang menggunakan konsep-konsep sains.
Selain itu pelajar tidak berdiskusi dengan bermacam-macam pendapat melainkan cenderung hanya ingin membenarkan/mengkonfirmasi sebuah pendapat saja (confirmation bias). Pelajar tidak mengevaluasi pendapat mereka menggunakan bukti observasi dan tidak mencari alternatif penjelasan lain yang memiliki potensial lebih baik.

Rujukan

Jika Anda tertarik melakukan penelitian terkait argument driven inquiry dan ingin memiliki list penelitian yang kami rujuk dalam penulisan artikel ini, silakan hubungi kami via email creaticallyawesome@gmail.com. Kami dapat memberikan Anda artikel ini dalam bentuk pdf lengkap dengan rujukannya.
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Bagikan ke Teman Anda
Pos Terkait

Tinggalkan Balasan