Argumentasi Ilmiah: Pengertian, Strategi Pembelajaran, Penilaian, dan Penerapan serta Penelitian di Indonesia

By a Guy Who Teaches Physics for Fun

Pengertian Argumentasi Ilmiah

Argumentasi adalah sebuah upaya berbagi argumen untuk meyakinkan pihak lain terhadap benar atau salahnya sebuah ide. Argumentasi ilmiah adalah argumentasi yang dilakukan pada dunia sains dengan tujuan untuk menguji kebenaran dan keabsahan sebuah gagasan atau pengetahuan yang dikemukakan oleh ilmuwan lainya.
Argumentasi ilmiah dapat dilakukan secara percakapan langsung namun utamanya diajukan secara tertulis. Para ilmuwan dapat lebih mudah mengkritisi argumen satu sama lain secara tertulis dalam bentuk scientific paper atau argumentative essay.
Berbeda dengan opini, sebuah argumen ilmiah harus memiliki 3 komponen yaitu klaim, bukti, dan penalaran. Dalam bahasa inggris 3 komponen tersebut dikenal sebagai claim, evidence, and reasoning yang disingkat CER.
Komponen yang mendirikan sebuah argumen ilmiah yang baik dalam pembelajaran model argument driven inquiry

Pembelajaran Argumentasi Ilmiah di Indonesia

Salah satu kegiatan sains yang masih jarang diajarkan kepada siswa pada pembelajaran di kelas adalah argumentasi ilmiah. Bukti lapangan berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih belum memiliki kemampuan yang cukup untuk berpartisipasi dalam argumentasi ilmiah.
Jika Anda ingin mengetahui penelitian-penelitian yang kami rujuk pada penulisan artikel ini, silakan hubungi kami di creaticallyawesome@gmail.com. Kami dapat mengirim list penelitian-penelitian yang kami rujuk.
Penelitian terkait kemampuan argumentasi siswa di Indonesia telah dilakukan. Penelitian yang dilakukan di salah satu SMA di Malang menunjukkan bahwa kemampuan argumentasi siswa pada pembelajaran fisika masih belum baik. Siswa masih dalam tahap mampu membuat klaim namun belum didukung dengan pembenaran yang sesuai dengan konsep fisika. Siswa juga belum mampu membuat bantahan dengan baik. Lemahnya kemampuan argumentasi siswa disebabkan oleh kurangnya aktivitas pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk mengembangkan argumen berbasis bukti.
Berdasarkan hal tersebut, proses argumentasi perlu dihadirkan pada pembelajaran dikelas agar siswa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

Model Pembelajaran Argument Driven Inquiry untuk Mengajarkan Siswa Indonesia Kemampuan Argumentasi Ilmiah

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dengan tujuan mengembangkan kemampuan argumentasi ilmiah siswa adalah Argument-driven Inquiry (ADI). ADI adalah strategi pembelajaran yang didesain untuk memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan kemampuan penyelidikan laboratorium yang disertai dengan aktivitas argumentasi baik secara lisan maupun tulisan.
Model pembelajaran ADI dapat diterapkan pada berbagai macam materi pembelajaran yang melibatkan praktikum seperti fisika, kimia, dan biologi. Tentu, model ini juga bisa diterapkan pada pembelajaran di luar sains alam.
Anda dapat melihat penerapan ADI di Indonesia dengan membaca artikel kami berikut Argument Driven Inquiry: Pengertian, Tujuan, Tahapan, dan Penerapan.
Berdasarkan penelitian-penelitian telah dilakukan, ada baiknya peneliti pendidikan dan guru-guru di Indonesia untuk menggunakan model ADI dalam pembelajaran sains karena secara teori dan empiris memiliki kemungkinan besar untuk meningkatkan kemampuan argumentasi siswa begitu juga dengan penguasaan konsep dan pemecahan masalah.

Menilai Kemampuan Argumentasi Siswa

Argumen siswa dapat dinilai menggunakan pola argumen Toulmin atau Toulmin Argumentation Pattern (TAP). Toulmin menjabarkan bahwa sebuah argumen terdiri dari claim, ground, warrants, rebuttal, backing dan qualifier. Dalam pembelajaran sains, komponen-komponen tersebut dapat dimodifikasi dan dipahami seperti di bawah ini.
Claim adalah ide, gagasan, kesimpulan, atau jawaban dari sebuah pertanyaan penelitian yang memiliki dasar yaitu data hasil observasi.
Ground/Data adalah data atau fakta yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan oleh siswa.
Warrants adalah alasan atau penalaran yang menghubungkan claim dengan data.
Backing adalah pernyataan yang memperkuat atau mendukung warrant (alasan tambahan yang bertujuan untuk membuktikan kebenaran dan melengkapi warrants).
Qualifiers adalah pernyataan yang menerangkan bahwa claim mungkin tidak benar di semua kondisi.
Rebuttals adalah pernyataan yang menyatakan skenario-skenario di mana claim menjadi tidak benar.
Bagan TAP dapat Anda lihat di bawah ini.
Bagan Toulmin argument pattern

Contoh Sebuah Argumen yang Memenuhi TAP

Misalkan Anda sebagai guru ingin mengajar materi listrik statis. Mengajarkan materi ini dengan percobaan sederhana sebenarnya mudah diterapkan. Kami telah menerbitkan artikel percobaan listrik statis dan alternatifnya, silakan kunjungi langsung jika ingin lihat lebih lengkap.
Salah satu percobaan yang dapat dilakukan adalah menarik serpihan kertas dengan benda yang telah bermuatan akibat penggosokan seperti batang kaca atau plastik sedotan. Anda dapat menerapkan model pembelajaran argument driven inquiry dan mengharapkan siswa dapat membuat argumen seperti di bawah ini.
contoh argumen yang memenuhi toulmin argument pattern

Tabel Level Kemampuan Argumentasi Siswa

Tentu tidak mungkin bagi semua siswa untuk menciptakan argumentasi ilmiah sebaik contoh yang kami berikan di atas. Kemampuan siswa mungkin hanya berkisar membuat claim dan bukti tanpa warrant, terkadang tidak ada rebuttal, terkadang juga tidak ada backing. Dari berbagai kemungkinan terjadi kita memerlukan kerangka yang dapat membantu kita untuk menilai kemampuan argumentasi siswa.
Salah satu kerangka yang digunakan untuk menilai tingkat kemampuan argumentasi siswa adalah kerangka yang dikembangkan oleh Erduran. Kualitas kemampuan argumentasi siswa diklasifikasikan menjadi lima tingkatan berdasarkan level argumentasi yang masing-masing dijabarkan dalam Tabel di bawah ini.
Tabel kerangka penilaian kemampuan argumentasi siswa
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Bagikan ke Teman Anda
Pos Terkait

Tinggalkan Balasan