Hustle Culture: Gila Kerja Sampai Mengorbankan Kebutuhan Kemanusiaan Anda.

Onggy Siregar
Top page
“ Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi, Seperti orang-orang berdasi yang gila materi…”
Salah satu penggalan lirik lagu dari Fourtwnty ini sudah seperti pukulan hook Mike Tyson yang menghantam mereka yang gila kerja. Sering kali kejujuran sebuah karya seni adalah cerminan kenyataan sosial saat itu, yang ingin disuarakan pencipta karya tersebut.
Seperti halnya lagu dari Fourtwnty di atas. Di era di mana uang dan materi menjadi tolok ukur kesuksesan, maka bekerja dengan orientasi hasil yang maksimal adalah tujuan utama. Akibatnya sisi-sisi manusiawi menjadi terabaikan bahkan tidak diperhatikan lagi demi ketuntasan pekerjaan.
Budaya seperti itu jamak terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Budaya yang akhirnya dikenal dengan sebutan Hustle Culture.
Berangkat Kerja di Kota

Asal Mula Hustle Culture

Hustle Culture atau budaya gila kerja terus-terusan sebenarnya sudah ada sebelum Undang-undang Keselamatan Kerja diterapkan. Budaya kerja ini diciptakan untuk mengeksploitasi manusia untuk bekerja pada kondisi yang tidak manusiawi, seperti situasi dan lingkungan kerja yang berbahaya, total jam kerja yang berlebihan, dan upah kerja yang tidak sepadan dengan effort dan risiko pekerjaan.
Hustle Culture yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi gaya hidup ini kemudian diamini sebagai personal brandings di kalangan milenial.

Penyebab munculnya Hustle Culture

• Personal Branding

Para pekerja terpicu untuk menampilkan citra diri yang menggambarkan bahwa mereka adalah sosok yang produktif dan memiliki komitmen terhadap pekerjaannya. Realita itu terlihat dari aktivitas sosial media mereka. Para pekerja dengan bangga berbagi post yang berisikan kegiatan pekerjaan pada sosial media.
personal branding di sosial media alasan hustle culture
Personal Branding on Social Media
Media sosial berperan besar dalam membentuk Hustle Culture. Rata-rata orang menghabiskan 5 jam per hari untuk berselancar di sosial media. Banyak posts sosial media menunjukkan orang-orang yang gila kerja tanpa libur. Alhasil, orang-orang yang tidak memiliki semangat “gila kerja” yang sama akan merasa mereka harus mengikuti budaya tersebut setelah melihatnya di sosial media.
Pada akhirnya sosial media semakin memperkuat dan memperteguh Hustle Culture di lingkungan kerja kita hari ini.

• Obsesi Personal

Sejak tumbuh dan geliatnya Start-up di dalam dan luar negeri, Hustle Culture seolah semakin diagungkan. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya orang-orang yang terobsesi ingin menjadi layaknya Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Gary Vaynerchuck dan kawan-kawannya. Apalagi di tengah kondisi pandemi, di mana kebijakan Work From Home juga semakin memicu munculnya budaya ini, para pekerja tidak lagi memiliki batasan antara bekerja dan bersantai di rumah.

Dampak Negatif

Dampak negatif dari Hustle Culture bagi pekerja adalah burnout. Burnout adalah capek secara fisik dan mental akibat terlalu lama berada pada tekanan pekerjaan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kombinasi Hustle Culture dan juga kurangnya kualitas pengelolaan sumber daya manusia. Dalam kata lain, bagian SDM perusahaan tidak mengukur batas kemampuan fisik dan mental para rekan kerja sehingga pekerja mengalami burnout.
Hustle Culture dapat menyebabkan Burnout
Burnout karena kebanyakan kerja tanpa memerhatikan sisi manusiawi
Antara Hustle dan Burnout memiliki korelasi. Di mana demi memenuhi ekspektasi perusahaan, orang akan bekerja keras memenuhi ekspektasi tersebut sehingga ia harus terus hustle, dampaknya tentu kelelahan akibat bekerja.
Hustle Culture yang kerap kali dikaitkan dengan produktivitas, justru menjadi kontra produktif ketika dimaknai dengan salah. Produktif berarti seberapa efisien production input yang dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu, tetapi juga tidak mengabaikan kebutuhan emosional, kebutuhan spiritual, kebutuhan fisik dan intelektual kita sebagai manusia.

Dampak Positif

Pada akhirnya Hustle Culture dapat berdampak positif ketika kita sadar bahwa produktivitas tumbuh untuk keperluan diri kita sendiri, berdasar adanya kemauan dan dorongan pribadi, daripada hanya sekedar untuk menyenangkan ataupun memenuhi harapan orang lain. Kembali ke lirik lagu Fourtwnty, “ Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi ”.
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Bagikan ke Teman Anda
Pos Terkait

Tinggalkan Balasan